Century.co.id, (Pohuwato) – Kawasan Pantai Wisata Libuo mendadak berubah menjadi zona evakuasi darurat pada Sabtu (24/01/2026). Sebanyak 75 peserta “Guardianship” terjun langsung dalam simulasi kebencanaan gempa bumi dan tsunami yang dirancang se-realistis mungkin.
Simulasi berskala besar ini difasilitasi oleh sinergi instruktur dari Tim Emergency Response PT Pani Gold Mine, Basarnas, dan BPBD Kabupaten Pohuwato.
Untuk menciptakan suasana darurat yang nyata, panitia membangun infrastruktur penanganan bencana lengkap, mulai dari Posko Induk sebagai pusat komando Tenda Medis untuk penanganan korban kritis hingga rumah korban gempa bumi untuk proses evakuasi di area darat.
Aksi Heroik di Laut dan Darat
Dalam skenario ini, para Guardianship diuji ketangkasannya dalam merespons jatuhnya korban jiwa di dua medan berbeda:
Operasi Penyelamatan Laut: Peserta mempraktikkan cara menyelamatkan korban tenggelam dan hanyut akibat terjangan tsunami.
Mereka dilatih mulai dari teknik menjangkau korban di perairan, proses pengangkatan yang benar, hingga prosedur evakuasi menggunakan tandu menuju bibir pantai dengan koordinasi yang ketat.
Operasi Penyelamatan Darat: Di zona daratan, simulasi difokuskan pada penanganan korban reruntuhan bangunan akibat gempa. Para peserta harus menangani kasus-kasus medis yang kompleks, seperti korban patah tulang, sesak napas (trauma dada), hingga penanganan khusus bagi ibu hamil yang terjebak di area bencana.
Alur Evakuasi Profesional
Kekuatan simulasi ini terletak pada alur penanganan korbannya. Setiap korban yang berhasil dievakuasi dari titik bencana tidak langsung dibiarkan, melainkan harus melalui alur birokrasi darurat yang benar.
“Kami menyusun simulasi ini se-real mungkin. Korban dievakuasi dari titik nol, dilaporkan ke Posko Induk untuk pendataan, lalu segera dilarikan ke Tenda Medis untuk mendapatkan pertolongan pertama dari tim ahli.
Ini melatih para Guardianship untuk bekerja secara sistematis di bawah tekanan,” Pungkas Abdurrahman Bangga selaku ketua PPI Pohuwato.
Di Tenda Medis, para peserta diajarkan bagaimana melakukan stabilisasi kondisi korban hingga penggolongan triase sebelum bantuan medis lanjutan tiba. Keberadaan Posko Induk juga melatih jiwa kepemimpinan para siswa unggulan ini dalam mengelola informasi dan pergerakan personel di lapangan.
Sinergi Penyelamatan Jiwa
Keterlibatan aktif Basarnas dan BPBD dalam mengawasi setiap pergerakan peserta memastikan bahwa teknik yang digunakan sesuai dengan standar prosedur operasional (SOP) penyelamatan nasional.
Dengan adanya simulasi yang melibatkan medan laut dan darat secara simultan ini, 75 Guardianship Pohuwato kini tidak hanya memiliki pengetahuan teori, tetapi juga pengalaman mental dalam menghadapi situasi kritis. Mereka kini disiapkan menjadi relawan tangguh yang siap digerakkan kapan saja bencana mengancam Bumi Panua.

















