Century.co.id, (Pohuwato) – Hari ketiga rangkaian “PPI Patriotic Adventure 2026” diwarnai dengan aksi konservasi yang mendalam dengan melepas tujuh ekor burung maleo. Sebanyak 13 peserta Guardianship perwakilan sekolah melakukan kunjungan strategis ke Penangkaran Burung Maleo di kawasan Cagar Alam Panua, Minggu (25/01/2026).
Agenda ini menjadi bukti nyata kepedulian pemuda terhadap kelestarian satwa endemik Gorontalo.
Kegiatan ini dipandu langsung oleh tim ahli dari BKSDA Sulut dan didampingi secara intensif oleh pengurus PPI Provinsi Gorontalo, PPI Kabupaten Pohuwato dan DPPI Provinsi Gorontalo.
Turut hadir memberikan dukungan dalam aksi lingkungan ini. Mengakar pada Edukasi BKSDA Sulut Dalam kunjungan tersebut, para Guardianship menerima edukasi lapangan dari pihak BKSDA Sulut mengenai keunikan siklus hidup Maleo Senkawor.
Para peserta diajak melihat langsung habitat peneluran yang memanfaatkan panas bumi, sekaligus memahami tantangan besar dalam melindungi satwa ini dari ancaman kepunahan.
Edukasi ini bertujuan agar para delegasi dari 13 sekolah unggulan Pohuwato tersebut memiliki wawasan konservasi yang berbasis pada data dan fakta lapangan yang dikelola oleh otoritas berwenang.
Sinergi PPI dan BKSDA Sulut menjadi pilar utama dalam pendampingan karakter para peserta di lokasi penangkaran. PPI Kabupaten Pohuwato menegaskan komitmennya untuk mencetak generasi yang tidak hanya berjiwa pahlawan, tetapi juga mencintai kekayaan hayati daerahnya.
Di sisi lain, keterlibatan Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) menambah dimensi nilai luhur dalam kegiatan ini.
Kehadiran mereka menyimbolkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam menjaga kedaulatan ekosistem nasional. Sinergi antara organisasi purna paskibraka ini memperkuat posisi pemuda sebagai pelopor pelestarian alam di Pohuwato.
Pelepasan Maleo: Bakti untuk Bumi Panua
Momen paling dinanti terjadi saat 13 perwakilan Guardianship bersama jajaran PPI Provinsi Gorontalo, PPI Kabupaten Pohuwato dan DPPI Provinsi Gorontalo melakukan pelepasliaran burung Maleo kembali ke habitat aslinya.
Aksi simbolis ini merupakan wujud bakti pemuda terhadap Bumi Panua, sekaligus penegasan bahwa perjuangan di masa kini juga mencakup perlindungan terhadap flora dan fauna endemik.
Pelepasliaran di bawah pengawasan BKSDA Sulut ini memberikan pengalaman batin yang kuat bagi para Guardianship.
Mereka kini tidak hanya dibekali keahlian mitigasi bencana, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal kelestarian Cagar Alam Panua agar tetap menjadi rumah yang aman bagi Maleo di masa depan.

















