Oleh: Andi Muh. Maulana Asmar (Ketua Bidang PA HMI Cab. Pohuwato)
Century.co.id, (Opini) – Prosesi penganugerahan gelar adat kepada Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, di Lampung yang diikuti ritual menginjak kepala kerbau memunculkan beragam tafsir di ruang publik. Dalam perspektif semiotika, sebuah ritual adat bukan sekadar tindakan fisik, melainkan rangkaian tanda (sign) yang memproduksi makna. Karena itu, pembacaannya tidak cukup berhenti pada apa yang tampak, tetapi juga pada bagaimana makna dibangun, diproduksi, dan diterima masyarakat.
Menurut Ferdinand de Saussure, setiap tanda tersusun atas dua unsur utama, yaitu penanda (signifier) dan petanda (signified).
Dalam konteks prosesi tersebut:
- Penanda (signifier) adalah tindakan visual menginjak kepala kerbau, pakaian adat, prosesi penobatan, gelar adat, serta seluruh elemen seremonial yang dapat disaksikan publik.
- Petanda (signified) adalah makna yang dilekatkan pada tindakan tersebut, seperti keberanian, kehormatan, kepemimpinan, pengorbanan, tanggung jawab, penghormatan terhadap adat, dan legitimasi moral sebagaimana dijelaskan oleh penyelenggara adat.
Dalam semiotika klasik, hubungan antara penanda dan petanda relatif stabil karena makna dijaga oleh sistem budaya yang melahirkannya. Namun dalam masyarakat modern, hubungan itu tidak lagi sesederhana demikian.
Pemikir Prancis Roland Barthes menjelaskan bahwa tanda dapat berkembang menjadi mitos (myth). Mitos bukan berarti cerita bohong, melainkan sistem makna tingkat kedua yang membuat suatu simbol tampak alamiah, wajar, dan seolah tidak dapat dipersoalkan.
Dalam konteks ini, ritual adat dapat melahirkan mitos tentang kepemimpinan yang luhur, bijaksana, atau memiliki legitimasi budaya. Makna tersebut kemudian diterima publik bukan hanya sebagai penghormatan adat, tetapi juga dapat dibaca sebagai simbol yang memperkuat citra politik.
Di sinilah analisis hipersemiotika yang dikembangkan Yasraf Amir Piliang menjadi relevan. Yasraf menjelaskan bahwa masyarakat kontemporer mengalami ledakan tanda (explosion of signs), yaitu situasi ketika simbol diproduksi secara masif sehingga lebih dominan daripada realitas yang diwakilinya.
Dengan kata lain, yang dikonsumsi masyarakat bukan lagi realitas kepemimpinan itu sendiri, melainkan representasi kepemimpinan melalui simbol-simbol budaya, media, dan pencitraan.
Analisis ini juga memiliki akar kuat dalam teori Jean Baudrillard mengenai simulasi dan hiperrealitas. Baudrillard berpendapat bahwa dalam masyarakat modern, tanda dapat terlepas dari referensi realitasnya hingga akhirnya menciptakan realitas baru yang justru lebih dipercaya daripada kenyataan itu sendiri.
Melalui kacamata tersebut, perhatian publik dapat bergeser dari evaluasi terhadap kebijakan, capaian pemerintahan, maupun persoalan sosial, menuju perbincangan mengenai simbol-simbol yang dipertontonkan dalam ruang publik. Simbol menjadi objek utama konsumsi media.
Namun, penting ditegaskan bahwa analisis semiotika tidak menyimpulkan bahwa ritual adat itu sendiri bermasalah. Ritual tersebut memiliki makna budaya yang sah menurut komunitas adat yang melaksanakannya. Yang menjadi objek kajian adalah bagaimana tanda itu beroperasi ketika memasuki ruang komunikasi politik dan media massa.
Dalam perspektif semiotika politik, makna sebuah simbol tidak hanya ditentukan oleh niat pembuatnya (encoding), tetapi juga oleh cara masyarakat menafsirkannya (decoding). Karena itu, satu ritual dapat dipahami sebagai penghormatan budaya oleh sebagian orang, sementara bagi pihak lain dapat dibaca sebagai penguatan citra politik. Keragaman tafsir tersebut merupakan bagian dari dinamika komunikasi publik.
Pada akhirnya, hipersemiotika mengingatkan bahwa demokrasi memerlukan keseimbangan antara simbol dan substansi. Simbol budaya dapat memperkaya identitas kebangsaan, tetapi penilaian terhadap kepemimpinan tetap perlu didasarkan pada realitas kebijakan, akuntabilitas, dan dampaknya bagi masyarakat. Ketika penanda menjadi lebih dominan daripada realitas yang diwakilinya, ruang publik berisiko lebih banyak memperdebatkan citra daripada substansi.
Catatan akademik: Analisis di atas merupakan pembacaan teoretis menggunakan kerangka semiotika dan hipersemiotika. Ia tidak dimaksudkan sebagai klaim mengenai tujuan penyelenggara prosesi adat maupun makna tunggal dari ritual tersebut.















